Senin, 28 Mei 2012

Nikmatnya Membeli Durian Busuk

Durian, salah satu buah yang belum pernah aku beli pakai kocekku sendiri. Dahulu,ketika usiaku sekitar empat tahun, ayah setiap pulang berdagang dari Lampung selalu membawa durian satu karung. Sudah pasti tetangga kami yang saat itu tinggal di Cibinong, dapat merasakan durian tersebut.

Istriku sangat ingin sekali buah durian. Sering kali meminta, namun tidak aku hiraukan, kenapa? Pertama Karena harganya yang pasti mahal. Kedua karena aku masih tinggal di kontrakan, yang rumahnya berdekatan dengan rumah kontrakan yang lain. Jika kami menikmati buah durian, pasti akan tercium baunya oleh tetangga. Tetangga perlu dikasih dong, masak cuma nyium baunya. Tapi mau dikasih bagaimana, wong harga buah durian yang mahal tak mungkin aku banyak membelinya.

Ahad, 27 Mei 2012 sebagai hari bersejarah bagiku. Kenapa? Karena aku meminta istriku untuk membelikan buah durian pakai kocekku sendiri. Lagi-lagi, karena harganya yang cukup mahal, aku tidak membeli durian yang masih utuh bulatannya. Gak utuh bagaimana? Ya memang aku membeli buah durian yang sudah terlepas dari kulitnya, harganya cukup murah. Satu porsinya Cuma Rp 20.000,-

Istriku membeli dua porsi. Agak kecewa sih, karena ini akhir bulan, kantongku sudah menipis. Tapi gak mengapalah,sudah terlanjur dibeli, walau di hati masih kesel. Tak lupa kami membeli es kelapa untuk dicampur dengan buah durian.

Setiba di rumah, sudah bukan kontrakan ya, makanya aku mau menikmati durian, karena belum ada tetangga terdekat yang menempati rumah barunya. Kami langsung membuka es kelapa langsung dicampur dengan satu porsi buah durian. Apa yg terjadi? Masya Allah, ternyata asam rasa buah duriannya. Buah duriannya busuk. Es kelapa yang sudah dicampur dengan buah durian akhirnya ikut terbawa asam. Hanif yang tidak mengerti mengapa es kelapa yg sudah dicampur dengan durian tidak kami makan, langsung menangis memaksa untuk dimakan juga.

Alhamdulillah, Cuma satu porsi yang asam, satu lagi tidak, karena es kelapanya sudah habis, akhirnya durian yang satu bungkus lagi kami makan langsung. Kenapa bersyukur? Karena aku teringat sudah kecewa dengan istri yang membeli dua porsi buah durian dalam kondisi kantong yang sudah menipis. Hikmah memang adanya di belakang setiap peristiwa.


Adsense Indonesia

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya