Kamis, 12 April 2012

Islam Mengisi Kekosongan Jiwa Natassia M Kelly

Ilustrasi
Natassia M. Kelly dibesarkan dalam tradisi Kristen yang kental. Setiap pekan ia tak pernah absen datang ke gereja. Ia pun aktif mengikuti paduan suara gereja. Ironisnya, Natassia tidak pernah merasa agama menjadi bagian dari hidupnya.

"Ketika saya merasa dekat dengan Tuhan, saya sering berdoa untuk meminta bimbingan dan kekuatan pada saat putus asa atau ada hal yang diinginkan. Tapi saya menyadari perasaan kedekatan itu seolah menguap ketika saya tidak lagi memohon kepada Tuhan untuk sesuatu. Saya menyadari bahwa saya percaya, tapi saya tidak memiliki iman," paparnya.

Natassia sadar, kehidupan yang serba rumit ini membutuhkan Tuhan. Menurutnya, jika tidak ada Tuhan, dunia akan berakhir dalam anarkis. Sebabnya, Natassia menilai manusia membutuhkan bimbingan spiritual guna menjalani hidup secara tertib dan teratur. "Setidaknya itu yang saya pahami," imbuh dia.

Berbeda dengan teman sebayanya yang menganggap agama adalah warisan orang tua, Natassia tidak begitu saja menerima konsep tersebut. Pada usia 12 tahun, ia mulai mencari kebenaran yang sesungguhnya. Ia sadar dirinya tidak diisi dengan iman yang benar. Ia memang berdoa, tapi meragukan apakah ia memohon kepada Tuhan yang nyata. "Ibu saya selalu katakan agar saya selalu meminta perlindungan kepada Yesus," kenang Natassia.

Natassia mengisahkan, saat itu ia belum berkenan untuk mendebat apa yang diyakini sekarang. Ia hanya berani berdiskusi bersama teman-temanya tentang Kristen, Katolik dan Yahudi. Perdebatan itu sedikit menggali rasa penasaran Natassia. Ia memang tidak seutuhnya menemukan kebenaran sejati. Tapi itulah awal mula Natassia menuju Islam.

Mencari dan terus mencari, Natassia percaya manusia diciptakan Tuhan dengan dibekali akal serta nafsu. Akal itu digunakan untuk berpikir. Lalu ia pergunakan akal tersebut untuk mencari kebenaran. Entah melalui perdebatan atau mendalami Injil. Tak lama, langkah Natassia sempat terhenti. Ibundanya mulai memperhatikan perilakunya.

"Beberapa bulan dalam pencarianku, aku menyadari jika saya percaya pada agama Kristen, maka saya akan masuk neraka. Bahkan bila mengingat dosa-dosaku di masa lalu, aku berada di jalan yang benar menuju neraka. Seorang pendeta mengatakan padaku untuk tetap berada dalam ajaran Kristen. Tapi aku merasa mengalami penolakan," ungkap dia.

Natassia ingat betul, setiap kali ia menghadiri kebaktian gereja, ia diberitahu hanya dengan mengakui Yesus sebagai juru selamat maka dirinya akan hidup kekal di surga. Tapi tetap saja, Natassia merasa gelisah dan kosong.

Ia mencoba untuk mempertanyakan apa yang menganjal dalam jiwanya kepada orang-orang disekitarnya. Tapi ia tidak menemukan jawaban yang pas. Bahkan, ia kian bingung. Ia pernah disarankan untuk menempatkan logika saat berhadapan dengan Tuhan. "Aku tidak memiliki iman, aku pun tidak percaya. Itulah masalahku," imbuh Natassia.

"Aku tidak terlalu percaya pada apapun. Aku percaya pada Allah, dan Dia mengirim Yesus untuk menyelamatkan umat manusia. Hanya sebatas itu saja, sementara pertanyaanku dan penalaranku tidak demikian," tambahnya.

Pertanyaan dalam diri Natassia terus berlanjut. Rasa bingung dalam dirinya turut pula meningkat. Ia semakin sadar, selama 15 tahun ia tidak menjalani sebuah agama yang benar-benar diyakininya melainkan lebih kepada menjalani agama orang tuanya.

Kondisi itu, tidak berlangsung lama. Rasa lelah telah menghinggapinya. "Untuk sementara aku menyerah," tuntas dia. republika.co.id

Adsense Indonesia

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terima Kasih atas komentarnya